Sabtu, 09 Januari 2010

foto2

BIOGRAFI PONDOK PESANTREN"DARUT-TAQWA"

BIOGRAFI PONDOK PESANTREN"DARUT-TAQWA"
Pondok pesantren adalah suatu Penjara Suci tempat orang-orang yang berpotensial besar dan dibesarkan. juga lembaga yang paling efektif dalam mendidik dan membina mental spiritual suatu bangsa, serta mendaftar prestasi tapi juga menanamkan Visi dan Misi, karena didalamnya banyak di pelajari ilmu, baik formal maupun non formal.
MATSISDAT dalam hal ini PONPES “Darut Taqwa” yang didirikan pada tahun 1980 oleh sang pendirinya yaitu ROMO KH. MANSHUR BAHRUDDIN Putra ketiga dari ROMO KH. BAHRUDDIN KALAM ( Pengasuh Pondok Pesantren “Darut Taqwa” Carat – Gempol Pasuruan. )
Pondok ini semula diberi nama Pondok Pesantren “Nurul Huda” tetapi banyak lika-liku yang datang silih berganti karena ada suatu hal sehingga mengalami kefakuman dan sekitar Th. 1996 Romo Kh. Manshur Bahruddin beserta keluarga dan para santri yang pertama kali menempati PonPes “Nurul Huda” Yakni : Sananil Huda, Abd, Rohman, Imam, Toha, Abbas, Imro’atus Saidah, Wartining, Sholihaten dan Suher kembali resmi mengelola PonPes “Nurul Huda” tersebut lalu dirubah namanya menjadi PonPes “Darut Taqwa”.



Secara geografis PonPes “Darut Taqwa” sangat strategis karena letaknya 12 Km tenggara Kabupaten Mojokerto dan 2 Km dari jarak kecamatan. PonPes “Darut Taqwa” dibawah asuhan Romo KH. Manshur Bahruddin menempati area seluas ± 1 Hektar dengan kondisi alamnya yg masih asli seperti gemercik suara air sungai didepan & dibelakang pondok dan kicauan suara burung yang menghiasi keheningan malam saat para santri tengah khusuk – khusuknya melaksanakan sholat malam dan berdzikir.
Saat ini PonPes “Darut Taqwa” mengalami perkembangan yang sangat pesat, antara lain : para santri di bekali dengan macam keahlian bukan hanya dibekali ilmu agama saja, para santri juga diajarkan dalam bidang bangunan, pertukangan, computer Dll. seperti yang pernah dikerjakan kira-kira 2 tahun silam yaitu pelatihan ketrampilan permebelan Pondok Pesantren Se Kecamatan Dlanggu dan kebetulan diadakan di PonPes “Darut Taqwa” yang bekerja sama dengan BLKL Mojokerto, sebagai wujud bahwa PonPes “Darut Taqwa” mencetak sebagai kader muslim yang siap pakai tapi semua itu tidak terlepas dari pendiri PonPes “Darut Taqwa” ( Romo Kh. Manshur Bahruddin ) yang mempunyai visi : Menciptakan Santri Seng Teges Lan Tegas.
Disamping itu Pon Pes “Darut Taqwa” juga membina santri tua dan dewasa yang di gembleng melalui ilmu



THORIQOH NAQSABANDIYAH WAL QODRIYAH (khususnya) dibawah asuhan Mursyidat Thoriqoh KH. Manshur Bahruddin pada setiap selasa wage ( siang ) dan sesudah sholat Maghrib dilanjut dengan dzikrul Ghofilin ( umumnya ).
Sebagai pondok yang tergolong masih muda namun mempunyai banyak program yang direncanakan. Disamping itu program yang berjalan ± 11 tahun diantaranya Sekolah Diniyah, Syawir (Fiqih, Nahwu), pengajian rutin kitab kuning dan Al-Qu’ran, Dzikrul Ghofilin, Sholawat Diba’ (Diba’ Manaqib dan Al Banjari ), Seni baca Al-Qur’an dll.
Seiring dengan bergulirnya waktu PonPes “Darut Taqwa” semakin diperhitungkan dan mampu berbicara di kalangan pesantren lainnya. semisal pada tahun 2004 PonPes “Darut Taqwa” menjuarai lomba MTQ sekecamatan Dlanggu pada tahun 2007 menjuarai lomba MTQ lagi urutan ketiga tingkat SMP/MTs sekabupaten dan Sekodya Mojokerto.
Harapan kedepan mudah-mudahan PonPes “Darut Taqwa” ngembeh ini tetap diminati masyarakat dan dipercaya masyarakat sebagai pesantren yang ideal. dan yang paling penting mudah-mudahan lembaga serta unit-unit formal dapat terpenuhi seperti apa yang dibutuhkan masyarakat setempat. Amien …………..!

puisi arek2 popdat

PESANTREN DARUT TAQWA mengatakan...

OH ... PONDOKKU DARUT TAQWA


Oh…pondokku Darut Taqwa…
Tempat naunggan kita
Dari kecil hingga dewasa
Rasa batin dan sentosa
Dilindungi Alloh ta’ala
Oh…pondokku Darut Taqwa…
Engkau berjasa sa
Pada ibuku Indonesia
Tiap pagi dan petang kita ramai bersembahyang
Untuk mengabdi pada Alloh Ta’ala
Wahai pondok tempatku
Engkau laksana ibu kandungku
Nan kasih serta sayang padaku
Oh.. pondok ku Darut Taqwa
I……….Bu………..Ku…..
5 Agustus 2008 12:04
DARUTTAQWA mengatakan...

Cinta - Dia Bukan Milikku
Benar kata orang..
cinta tidak semestinya Bicara bersatu..

Kau hadir dalam mimpiku..
mengingatkan aku pada kisah lama..
Oh tuhan,adakah ku masih menyayangi diri mu..

Kini ku bahagia bersama insan lain..
begitu juga diri mu..
tapi kisah cinta kita masih belum dilupakan..
dia bukan milikku dan aku bukan untuk dirinya.

biografi pengasuh ponpes Darut Taqwa

DARUT TAQWA

Ngembeh Dlanggu Mojokerto JATIM
Kamis, 13 Agustus 2009
BIOGRAFI KH. MANSHUR BAHRUDDIN



Pada tahun 1985, KH. Manshur Bahruddin beserta keluarga dan para santri karena suatu hal hijrah ke Ponpes Carat - Gempol - Pasuruan. Pada Tahun 1996 KH. Manshur Bahruddin beserta keluarga dan para santrinya + 10 santri kembali hijrah ke Ponpes Ngembeh - Dlanggu - Mojokerto yang mana dulunya Ponpes ini dulunya bernama “Nurul Huda” kemudian digantikan namanya oleh Agus Ali Muhammad dengan nama “Darut Taqwa” disamakan dengan Ponpes Carat - Gempol - Pasuruan, tempat kelahirannya KH. Manshur Bahruddin.

Setelah beberapa tahun pondok ini mengalami kemajuan diantara para santri banyak yang datang dari berbagai daerah untuk menimba ilmu. Pada saat ini Ponpes “Darut Taqwa” mengalami kemajuan yang sangat pesat dengan dilengkapinya berbagai macam kegiatan dan lembaga-lembaga di dalamnya. di Ponpes “Darut Taqwa” para santri di beri pengajaran dan bimbingan di setiap hari.


Mereka diajarkan untuk mempelajari kitab kuning mulai dari membaca, menulis, bahkan untuk menghafalkannya. ada juga pendidikan agama yang diajarkan pada para santri, baik itu dalam segi formal ataupun non formal.


Dengan adanya skill dan kesungguhan santri santri mereka mampu menciptakan berbagai macam karya, tadinya hanya dalam pendidikan agama saja, tapi sekarang dalam bidang seni, bangunan, pertukangan dll. disamping itu ada pembinaan santri tua dan muda yang dibimbing melalui ilmu THORIQOH NAQSYABANDIYAH WALQODRIYAH (khususiyah) yang di bina oleh Mursyid Thoriqoh KH. Manshur Bahruddin setiap Selasa Wage Siang dengan dilanjutkan Dzikir Ghofilin Ba’da Sholat Maghrib (umum)


Diantaranya program-program yang sudah berjalan di dalam Ponpes “Darut Taqwa” yaitu Sekolah Diniyah Sawir (Fiqih, Nahwu), Pengajian Kitab Kuning, Al-Qur’an, Dzikir Ghofilin, Sholawat Al-Banjari Annabawi.


Berbagai macam program dan atas dukungan para santri mereka berani tampil untuk berdakwah dan bersholawat, di hadapan pada masyarakat. Dengan berdirinya Ponpes “Darut Taqwa” semoga menjadi contoh yang baik di mata masyarakat, dan semoga Allah SWT senantiasa memberikan jalan yang lurus dalam mengembangkan ajaran Agama Islam, hanya niat dan himmah para santri yang sungguh-sungguh insya Allah bisa membawa ke masa depan yang lebih baik dan bermanfaat.

ppdt

P O N D O K P E S A N T R E N
“ DARUT TAQWA “
NGEMBEH – DLANGGU – MOJOKERTO – JATIM – TELP. (0321) 513147


KITAB – KITAB YANG DI BACA DALAM BULAN RHOMADHON ( NGAJI KILATAN ) THN 2009 M / 1430 H

1.ABI JAMROH LILBUKHORI DI BACAKAN OLEH KH .MANSHUR BAHRUDIN ( HABIS SHUBUH)
2.FATHUL JAWAD DAN IRSYADUL IKHWAN DI BACAKAN OLEH AGUS NASICH ( HABIS DHUHUR)
3.ALLAMA’ATUN MINAL FURUQ DI BACAKAN OLEH AGUS MAHRUS (HABIS SHOLAT TRAWEH)
صلاة الليل في شهر رمضان
1.{ صلاة توبة
اُصَلِِّى سُنَّة ً ِللتَّوْبَةِ رَكْعَتَيْنِ لِلّهِ تَعَالى :
۞ ركعة اول بعدالفاتحة: سورة الكافرون
۞ ركعة كدوابعدالفاتحة: سورة الاخلاص

2 .{ صلاة تسبيح }
اُصَلِّى سُنَّة َ التَّسْبِيْحِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى :
۞ ركعة اول بعد الفاتحة: سورة التكاثر
۞ ركعة كدوا بعدالفاتحة: سورة العصر

3. { صلاة تسبيح }
اُصَلِّى سُنَّة َ التَّسْبِيْحِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى :
۞ ركعة اول بعد الفاتحة: سورةالكافرون
۞ ركعة كدوا بعدالفاتحة: سورةالاخلاص

4. { صلاة حاجة }
اُصَلِّى سُنَّة َ الحَاجَةِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى :
۞ ركعة اول بعد الفاتحة: سورةالكافرون
۞ ركعة كدوا بعدالفاتحة: سورةالاخلاص

5.{ صلاة استخارة }
اُصَلِّى سُنَّة َ اْلاِسْتِخَارَة ِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى :
۞ ركعة اول بعد الفاتحة: سورةالكافرون
۞ ركعة كدوا بعدالفاتحة: سورةالاخلاص

6. { صلاة لدفع البلاء } اُصَلِّى سُنَّةًَ ً لِدَفْعِ البَلاَءِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى :
۞ ركعة اول بعد الفاتحة: اية كرسى
۞ ركعة كدوا بعدالفاتحة: سورةالاخلاص,الفلق,الناس

7. { صلاة تهجد }
اُصَلِّى سُنَّةََ َ التَّهَجُّدِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى :
۞ ركعة اول بعد الفاتحة: سورةالكافرون
۞ ركعة كدوا بعدالفاتحة: سورةالاخلاص

8. { صلاة ليلة القدر }
اُصَلِّى سُنَّةًََ َ ليلةَ ََ الَقَََدْرِ اَرْْبَعَ رَكَعَاتٍ لِلَّهِ تَعَالَى :
۞ ركعة اول بعد الفاتحة: سورة التكاثر
۞ ركعة كدوا بعدالفاتحة: سورةالاخلاص
۞ ركعة كتيكا بعدالفاتحة: سورةالاخلاص
۞ ركعة كئمفات بعدالفاتحة: رةالاخلاص

۞ استغفرالله العظيم × 33 ـ الفاتحة × 1








۞ صلى الله على محمد × 33 ـ الفاتحة ×1
۞ لااله الاالله × 33 ـ الفاتحة ×1

* Home * About * Download Artikel Abu Nawas – Yang Lebih Kaya Dan Mencintai Fitnah

* Home
* About
* Download Artikel

Abu Nawas – Yang Lebih Kaya Dan Mencintai Fitnah

April 2, 2007

Seperti biasa, Abu Nawas berjalan-jalan mengunjungi pasar. Tempat inilah yang paling ia sukai karena dari tempat ini ia dapat menyampaikan ide-idenya ke masyarakat luas secara langsung.

Tiba-tiba ia berdiri di suatu tempat yang cukup tinggi untuk di dengar seluruh orang di pasar. Dengan suara agak keras, ia mulai berpidato, “Saudara-saudara sekalian. Ada yang perlu saudara-saudara ketahui tentang Raja kita yang tercinta, Baginda Harun Al Rasyid.”

Seluruh isi pasar terdiam, pandangan tertuju padanya. Orang-orang di pasar itu menunggu-nunggu kalimat berikutnya yang akan dikeluarkan oleh Abu Nawas. Melihat pandangan semua tertuju padanya, Abu Nawas semakin percaya diri.

“Kalian harus tahu, bahwa sebenarnya Baginda Harun Al Rasyid lebih kaya dari pada Allah.”

Tiba-tiba bergemeruhlah suara orang-orang dipasar. Semua orang tersentak mendengar kata-kata yang keluar mulut si Abu Nawas.

“Tenang….tenang…..tenang saudara. Masih ada lagi.”

Lagi-lagi seluruh orang pasar terdiam.

“Baginda kita itu, sebenarnya sangaaaaaaat mencintai fitnah.”

Meledaklah lagi gemuruh orang seluruh pasar. Banyak yang memprotes omongan Abu Nawas. Tetapi si Abu Nawas nampak tenang-tenang saja tanpa rasa bersalah sedikit pun.

Tiba-tiba sejumlah tangan merengut kedua lengan Abu Nawas. Tetapi Abu Nawas berusaha tetap tenang. Ia tahu itu adalah tangan-tangan dari punggawa-punggawa kerajaan. Diseretlah Abu Nawas menghadap raja Harun Al Rasyid.

Dengan muka geram, raja Harun Al Rasyid menginterogasi Abu Nawas dihadapan penasehat-penasehatnya. “Apakah benar dipasar kamu mengatakan bahwa Aku lebih kaya dari Allah?”

“Benar baginda.”

Makin geramlah Harun Al Rasyid.

“Apakah benar kamu juga mengatakan bahwa aku mecintai fitnah?”

“Maaf, Baginda. Itu benar adanya,” jawab Abu Nawas tenang.

“Pengawal!! Bawa Abu Nawas ke penjara. Gantung dia besok pagi.”

“Tenang, Baginda. Beri saya kesempatan untuk menjelaskan apa maksud kata-kata saya itu.” Abu Nawas memohon dengan wajah yang memelas.

“Cepat katakan! Sebelum kau temui ajalmu.”

“Begini Baginda. Maksud kata-kata saya bahwa Baginda lebih kaya dari Allah adalah baginda memiliki anak, sedang Allah tidak dimemiliki anak. Bukan begitu Baginda?”

Harun Al Rasyid terdiam. Dia tersenyum dalam hati. “Dasar. Si Abu Nawas.”

“Terus, maksud kata-katamu bahwa aku mencintai fitnah?”

“Maksudnya, bahwa Baginda sangat mencintai istri dan anak-anak Baginda sendiri. Padahal mereka dapat menjadi fitnah bagi Baginda. Bukan begitu Baginda?”

Harun Al Rasyid pun hanya bisa geleng-geleng kepala. “Lalu, kenapa kamu teriak-teriak di pasar? Yang tidak paham perkataanmu bisa marah.”

“Yah, kalau masyarakat marah. Nanti kan Saya dipanggil oleh, Baginda.”

“Kalau Aku sudah memanggil, memang kenapa?”

“Hmmmm….Yah…biar dikasih hadiah, Baginda,” ucap Abu Nawas lirih.

Baginda pun hanya bisa tersenyum simpul. Lalu diberikannya sekantung uang dinar ke Abu Nawas.

Cerita ”Teler”-nya Abu Nawas

Konon Terjadi Saat Lailatul Qadar
HAMPIR semua orang mengenal nama Abu Nawas. Namun di negeri kita, sosok tersebut telanjur dianggap sebagai pelawak. Mungkin hal itu akibat pengaruh buku “Hikayat Abu Nawas” saduran Nur Sutan Iskandar, terbitan Balai Pustaka, yang menjadi bacaan wajib murid-murid sekolah sejak tahun 1930-an hingga 1950-an.
Padahal Abu Nawas (nama sebenarnya Abu Hani Muhammad bin Hakami, lahir di Ahwaz, Persia, tahun 735 dan meninggal di Bagdhad, tahun 810) adalah seorang sastrawan besar dalam khazanah sastra Arab abad Pertengahan. Bahkan sastrawan terbesar pada zaman kekuasaan Sultan Harun al Rasyid al Abassi, yang menjadi khalifah Dinasti Abasiyah tahun 786-809.Memang, karena kepiawaiannya di bidang bahasa dan sastra Arab, Abu Nawas banyak menggubah sajak-sajak bercorak lelucon dan senda-gurau (mujuniyat). Ia juga sangat ahli merangkai syair tentang cinta dan kecantikan wanita (gazal), pujian terhadap seseorang (madah), bahkan sindiran halus namun tajam (hija). Dan dalam keadaan mabuk minum alkohol khamr), sambil meracau tak karuan, ia menggubah puisi-puisi yang membangga-banggakan minuman keras, yang disebut puisi khumrayat. Karena kelakuannya yang urakan, tak bermoral, bahkan kemungkina atheis, Abu Nawas tidak disukai kalangan agamawan dan kalangan yang menjunjung tinggi ahlak kesopanan. Bahkan, ia pernah dipenjarakan karena kelakuannya yang tak beres itu.
Namun menjelang usia tua, ia berubah total. Menjadi tekun beribadah, rendah hati (tawadlu) dan jarang berbicara. Dari beberapa anekdot yang dihimpun para pengamat puisi Abu Nawas, terungkap, kesadaran (al yakhzah) diri Abu Nawas tergugah pada suatu malam “Qadar” (Lai­latulkadar). Ko­non, ketika dalam keadaan “teler” Abu Nawas didatangi seseorang tak dikenal, yang berkata :“Ya, Abu Hani, idza lam takun milhan tuslih, fa la takun zubabatan tufsid (Wahai Abu Hani, jika engkau tak mampu menjadi garam yang melezatkan hidangan, janganlah engkau menjadi lalat yang menjijikkan, yang merusak hidangan itu).
Abu Nuwas langsung merasa dirinya sebagai lalat. Bahkan lebih hina dina. Ia sadar, tahun-tahun kehidupannya tidak membawa manfaat sebagaimana garam memberi kesedapan. Justru ia terus-terusan merusak, merusak dan merusak. Padahal merusak dilarang keras oleh Allah SWT. La tufsidu fil ardli. Innallaha la yuhibbul mufsidin (Alquran Surah Al Qashash ayat 77).Sejak peristiwa “Malam Qadar” itu, Abu Nawas, mengganti syair-syair dengan zikir. Memindahkan malam-malamnya dari kafe, bar atau pub, ke masjid. Ia tidak ingin lagi menjadi lalat. Biar tak jadi apa-apa, asal tidak membawa kerusakan bagi dirinya dan orang lain.
Beberapa kawannya satu “geng” mendatangi Abu Nawas yang sedang i’tikaf di sebuah masjid, pada sepuluh malam terakhir Ramadan. “Apa yang keluar dari bibirmu sekarang ?” ejek kawan-kawannya.
“Ayat-ayat Alquran,” jawab Abu Nawas, kalem.“Yang kau pikirkan di kepalamu ?”
“Kemahaagungan Allah, yang sudah mengubah manusia buruk seperti kalian, menjadi manusia yang baik seperti aku sekarang.”
“Kau habiskan malam-malammu dengan apa ?”
“Dengan mendekatkan diriku yang hina dina kepada Zat Maha Mulia, yaitu Allah SWT.”
“Lalu siang-siangmu keluyuran ke mana ?”
“Ke gurun dan samudera petunjuk-Nya yang penuh rahmat dan ampunan. Aku tak akan tersesat di situ, karena firman-firman-Nya amat jelas,” kata Abu Nawas seraya mengutip sabda Nabi Muhammad saw. afdlala ibadati ummatiy tilawatul Qurani. Sebaik-baik ibadah umatku adalah membaca Alquran.

Hikayat Abu Nawas: Pesan Bagi Para Hakim

Hikayat Abu Nawas: Pesan Bagi Para Hakim
Senin, 09/14/2009 - 22:10 — ombi

* Sastra Lama |
* Hikayat

Siapakah Abu Nawas ? Tokoh yang dinggap badut namun juga dianggap ulama besar ini- sufi, tokoh super lucu yang tiada bandingnya ini aslinya orang Persia yang dilahirkan pada tahun 750 M di Ahwaz meninggal pada tahun 819 M diBaghdad. Setelah dewasa ia mengembara ke Bashra dan Kufa. Di sana ia belajar bahasa Arab dan bergaul rapat sekali dengan orang-orang badui padang pasir. Karena pergaulannya itu ia mahir bahasa Arab dan adat istiadat dan kegemaran orang Arab, la juga pandai bersyair, berpanlun dan menyanyi. la sempat pulang ke negerinya, namun pergi lagi ke Baghdad bersama ayahnya, keduanya menghambakan diri kepada Sultan Harun Al Rasyid Raja Baghdad.

Mari kita mulai kisah penggeli hati ini. Bapaknya Abu Nawas adalah Penghulu Kerajaan Baghdad bernama Maulana. Pada suatu hari bapaknya Abu Nawas yang sudah tua itu sakit parah dan akhirnya meninggal dunia.

Abu Nawas dipanggil ke istana. la diperintah Sultan (Raja) untuk mengubur jenazah bapaknya itu sebagaimana adat Syeikh Maulana. Apa yang dilakukan Abu Nawas hampir tiada bedanya dengan Kadi Maulana baik mengenai tatacara memandikan jenazah hingga mengkafani, menyalati dan men-do’akannya. Maka Sultan bermaksud mengangkat Abu Nawas menjadi Kadi atau penghulu menggantikan kedudukan bapaknya.

Namun..,demi mendengar rencana sang Sultan. Tiba-tiba saja Abu Nawas yang cerdas itu tiba-tiba nampak berubah menjadi gila.

Usai upacara pemakaman bapaknya. Abu Nawas mengambil batang sepotong batang pisang dan diperlakukannya seperti kuda, ia menunggang kuda dari batang pisang itu sambil berlari-lari dari kuburan bapaknya menuju rumahnya. Orang yang melihat menjadi terheran-heran dibuatnya.

Pada hari yang lain ia mengajak anak-anak kecil dalam jumlah yang cukup banyak untuk pergi ke makam bapaknya. Dan di atas makam bapaknya itu ia mengajak anak-anak bermain rebana dan bersuka cita.

Kini semua orang semakin heran atas kelakuan Abu Nawas itu, mereka menganggap Abu Nawas sudah menjadi gila karena ditinggal mati oleh bapaknya.

Pada suatu hari ada beberapa orang utusan dari Sultan Harun Al Rasyid datang menemui Abu Nawas.

“Hai Abu Nawas kau dipanggil Sultan untuk menghadap ke istana.” kata wazir utusan Sultan.

“Buat apa sultan memanggilku, aku tidak ada keperluan dengannya.” jawab Abu Nawas dengan entengnya seperti tanpa beban.

“Hai Abu Nawas kau tidak boleh berkata seperti itu kepada rajamu.”

“Hai wazir, kau jangan banyak cakap. Cepat ambil ini kudaku ini dan mandikan di sungai supaya bersih dan segar.” kata Abu Nawas sambil menyodorkan sebatang pohon pisang yang dijadikan kuda-kudaan.

Si wazir hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Abu Nawas. “Abu Nawas kau mau apa tidak menghadap Sultan?” kata wazir.

“Katakan kepada rajamu, aku sudah tahu maka aku tidak mau.” kata

Abu Nawas.

“Apa maksudnya Abu Nawas?” tanya wazir dengan rasa penasaran.

“Sudah pergi sana, bilang saja begitu kepada rajamu.” sergah Abu Nawas sembari menyaruk debu dan dilempar ke arah si wazir dan teman-temannya.

Si wazir segera menyingkir dari halaman rumah Abu Nawas. Mereka laporkan keadaan Abu Nawas yang seperti tak waras itu kepada Sultan Harun Al Rasyid.

Dengan geram Sultan berkata,”Kalian bodoh semua, hanya menghadap-kan Abu Nawas kemari saja tak becus! Ayo pergi sana ke rumah Abu Nawas bawa dia kemari dengan suka rela ataupun terpaksa.”

Si wazir segera mengajak beberapa prajurit istana. Dan dengan paksa Abu Nawas di hadirkan di hadapan raja.

Namun lagi-lagi di depan raja Abu Nawas berlagak pilon bahkan tingkah-nya ugal-ugalan tak selayaknya berada di hadapan seorang raja.

“Abu Nawas bersikaplah sopan!” tegur Baginda. “Ya Baginda, tahukah Anda……?”

‘Apa Abu Nawas…?”

“Baginda…terasi itu asalnya dari udang !”

“Kurang ajar kau menghinaku Nawas !”

“Tidak Baginda! Siapa bilang udang berasal dari terasi?”

Baginda merasa dilecehkan, ia naik pitam dan segera member! perintah kepada para pengawalnya.

“Hajar dia ! Pukuli dia sebanyak dua puluh lima kali.”

Wah-wah! Abu Nawas yang kurus kering itu akhirnya lemas tak berdaya dipukuli tentara yang bertubuh kekar.

Usai dipukuli Abu Nawas disuruh keluar istana. Ketika sampai di pintu gerbang kota, ia dicegat oleh penjaga.

“Hai Abu Nawas! Tempo hari ketika kau hendak masuk kekota ini kita telah mengadakan perjanjian. Masak kau lupa pada janjimu itu?Jika engkau diberi hadiah oleh Baginda maka engkau berkata: Aku bagi dua; engkau satu bagian, aku satu bagian. Nan, sekarang mana bagianku itu?”

“Hai penjaga pintu gerbang, apakah kau benar-benar menginginkan hadtah Baginda yang diberikan kepadaku tadi?”

“lya, tentu itu kan sudah merupakan perjanjian kita?”

“Balk, aku berikan semuanya, bukan hanya satu bagian!”

“Wah ternyata kau baik hati Abu Nawas. Memang harusnya begitu, kau kan sudah sering menerima hadiah dari Baginda.”

Tanpa banyak cakap lagi Abu Nawas mengambil sebatang kayu yang agak besar lalu orang itu dipukulinya sebanyak dua puluh lima kali.Tentu saja orang itu menjerit-jerit kesakitan dan menganggap Abu Nawas telah menjadi gila.

Setelah penunggu gerbang kota itu klenger Abu Nawas meninggalkan-nya begitu saja, ia terus melangkah pulang ke rumahnya.

Sementara itu si penjaga pintu gerbang mengadukan nasibnya kepada Sultan Harun Al Rasyid.

“Ya, Tuanku Syah Alam, ampun beribu ampun. Hamba datang kemari mengadukan Abu Nawas yang telah memukul hamba sebanyak dua puluh lima kali tanpa suatu kesalahan. Hamba mohom keadilan dari Tuanku Baginda.”

Baginda segera memerintahkan pengawal untuk memanggil Abu Nawas. Setelah Abu Nawas berada di hadapan Baginda ia ditanya.”Hai Abu Nawas! Benarkah kau telah memukuli penunggu pintu gerbang kota ini sebanyak dua puluh limakali pukulan?”

Berkata Abu Nawas, “Ampun Tuanku, sudah sepatutnya dia menerima pukulan itu

“Apa maksudmu? Coba kau jelaskan seb orang itu?” tanya Baginda.

“Tuanku,”kata Abu Nawas.”Hamba dan p. mengadakan perjanjian bahwajika’hamba dit hadiah tersebut akan dibagi dua. Satu bagia saya. Nah pagi tadi hamba menerima hadial maka saya berikan pula hadiah dua puluh lii

“Hai penunggu pintu gerbang, benarkah kc seperti itu dengan Abu Nawas?” tanya Bagit

“Benar Tuanku,”jawab penunggu pintu g mengira jika Baginda memberikan hadiah pi

“Hahahahaha…….!Dasar tukang peras,

sahut Baginda.”Abu Nawas tiada bersalah bahwa penjaga pintu gerbang kota Baghdad a suka memeras orang! Kalau kau tidak merubah aku akan memecat dan menghukum kamu!”

“Ampun Tuanku,”sahut penjaga pintu g<

Abu Nawas berkata,”Tuanku, hamba sue tiba-tiba diwajibkan hadir di tempat ini, pai Hamba mohon ganti rugi. Sebab jatah waktu karena panggilan Tuanku. Padahal besok r untuk keluarga hamba.”

Sejenak Baginda melengak, terkejut ate tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak,” Hahahah

Baginda kemudian memerintahkan bem sekantong uang perak kepada Abu Nawas. A hati gembira.

Tetapi sesampai di rumahnya Abu Naw bahkan semakin nyentrik seperti orang gila J

Pada suatu hari Raja Harun Al Rasyid rm menterinya.

“Apa pendapat kalian mengenai Abu N. sebagai kadi?”3

Wazir atau perdana meneteri berkata,”Melihat keadaan Abu Nawas yang semakin parah otaknya maka sebaiknya Tuanku mengangkat orang lain saja menjadi kadi.”

Menteri-menteri yang lain juga mengutarakan pendapat yang sama. “Tuanku, Abu Nawas telah menjadi gila karena itu dia tak layak menjadi kadi.”

“Baiklah, kita tunggu dulu sampai dua puluh satu hari, karena bapaknya baru saja mati. Jika tidak sembuh-sembuh juga bolehlah kita mencari kadi yang lain saja.”

Setelah lewat satu bulan Abu Nawas masih dinggap gila, maka Sultan Harun Al Rasyid mengangkat orang lain menjadi kadi atau penghulu kerajaan Baghdad.

Konon dalam seuatu pertemuan besar ada seseorang bernama Polan yang sejak lama berambisi menjadi Kadi, la mempengaruhi orang-orang di sekitar Baginda untuk menyetujui jika ia diangkat menjadi Kadi, maka tatkala ia mengajukan dirinya menjadi Kadi kepada Baginda maka dengan mudah Baginda menyetujuinya.

Begitu mendengar Polan diangkat menjadi kadi maka Abu Nawas mengucapkan syukur kepada Tuhan. “Alhamdulillah….. aku telah terlepas dari balakyang mengerikan.Tapi….sayang sekali kenapa hams Polan yang menjadi Kadi, kenapa tidak yang lain saja.”

Mengapa Abu Nawas bersikap seperti orang gila? Ceritanya begini: Pada suatu hari ketika ayahnya sakit parah dan hendak meninggal dunia ia panggil Abu Nawas untuk menghadap. Abu Nawas pun datang mendapati bapaknya yang sudah lemah lunglai.

Berkata bapaknya, “Hai anakku, aku sudah hampir mati. Sekarang ciumlah telinga kanan dan telinga kiriku.”

Abu Nawas segera menuruti permintaan terakhir bapaknya. la cium telinga kanan bapaknya, ternyata berbau harum, sedangkan yang sebelah kiri berbau sangat busuk.

“Bagamaina anakku? Sudah kau cium?” “Benar Bapak!”

“Ceritakan dengan sejujurnya, baunya kedua telingaku ini.” “Aduh Pak, sungguh mengherankan, telinga Bapak yang sebelah kanan berbau harum sekali. Tapi… yang sebelah kiri kok baunya amat busuk?”

“Hai anakku Abu Nawas, tahukah apa sebabnya bisa terjadi begini?” “Watiai bapakku, cobalah ceritakan kepada anakmu ini.’;

Berkata Syeikh Maulana.Tada suatu hari datang dua orang mengadukan masalahnya kepadaku. Yang scorang aku dengarkan keluhannya. Tapi yang seorang lagf karena aku tak suka maka tak kudengar pengaduannya. Inilah resiko menjadi Kadi (Penghulu). Jika kelak kau suka menjadi Kadi maka kau akan mengalami hal yang sama, namun Jika kau tidak suka menjadi Kadi maka buatlah alasan yang masuk akal agar kau tidak dipilih sebagai Kadi o!eh Sultan Harun Al Rasyid. Tapi tak bisa tidak Sultan Harun AI.Rasyid pastilah tetap memilihmu sebagai Kadi.”

Nah, itulah sebabnya Abu Nawas pura-pura menjadi gila. Hanya untuk menghindarkan diri agar tidak diangkat menjadi kadi, seorang kadi atau penghulu pada masa itu kedudukannya seperti hakim yang memutus suatu perkara. Waiaupun Abu Nawas tidak menjadi Kadi namun dia sering diajak konsultasi oleh sang Raja untuk memutus suatu perkara. Bahkan ia kerap kali dipaksa datang ke istana hanya sekedar untuk menjawab pertanyaan Baginda Raja yang aneh-aneh dan tidak masuk akal.

hikayat abu nawas dan lelaki kikir

Hikayat abu nawas dan lelaki kikir

Syahdan,disuatu masa hidup seorang laki2 yang punya sifat kikir (pelit).ia mempunyai sebuah rumah yang cukup besar.didalam rumah itu dia tinggal bersama seorang istri dan 3 orang anaknya yang masih kecil2.laki2 ini merasa rumahnya sudah sangat sempit dengan keberadaannya dan keluarganya.namun,untuk memperluas rumahnya,sang lelaki merasa sayang untuk mengeluarkan uang.ia putar otak bagaimana caranya agar ia bisa memperluas rumahnya tanpa mengeluarkan banyak.akhirnya,ia mendatangi abunawas,seorang cerdik dikampungnya.pergilah ia menuju rumah abu nawas.

si lelaki : “salam hai abunawas,semoga engkau selamat sejahtera.”

abu nawas : “salam juga untukmu hai orang asing,ada apa gerangan kamu mendatangi kediamanku yang reot ini ?”

si lelaki lalu menceritakan masalah yang ia hadapi.abunawas mendengar dengan seksama.setelah si lelaki selesai bercerita,abunawas tampak tepekur sesaat,tersenyum,lalu ia berkata :

“hai fulan,jika kamu menghendaki kediaman yang lebih luas,belilah sepasang ayam,jantan dan betina,lalu buatkan kandang didalam rumahmu.3 hari lagi kau lapor padaku bagaimana keadaan rumahmu.”

si lelaki bingung,apa hubungannya ayam dengan luas rumah,tapi ia tak membantah.sepulang dari rumah abunawas,ia membeli sepasang ayam,lalu membuatkan kandang untuk ayamnya didalam rumah.
3 hari kemudian,ia kembali kekediaman abunawas,dengan wajah berkerut.

abunawas : “bagaimana fulan,sudah bertambah luaskah kediamanmu?”

si lelaki : “boro boro ya abu.apa kamu yakin idemu ini tidak salah?rumahku tambah kacau dengan adanya kedua ekor ayam itu.mereka membuat keributan dan kotorannya berbau tak sedap.”

abu nawas : “( sambil tersenyum ) kalau begitu tambahkan sepasang bebek dan buatkan kandang didalam rumahmu.lalu kembali 3 hari lagi.”

silelaki terperanjat.kemarin ayam sekarang bebek,memangnya rumahnya peternakan?.atau sicerdik abunawas ini sedang kumat jahilnya?namun seperti pertama kali,ia tak berani membantah,karena ingat reputasi abunawas yang selalu berhasil memecahkan berbagai masalah.pergilah ia ke pasar,dibelinya sepasang bebek,lalu dibuatkannya kandang didalam rumahnya.
setelah 3 hari ia kembali menemuai abunawas.

abu nawas : “bagaimana fulan,kediamanmu sedah mulai terasa luas atau belum ?”

si lelaki : “aduh abu,ampun,jangan kau menegerjai aku.saat ini adalah saat paling parah selama aku tinggal dirumah itu.rumahku sekarang sangat mirip pasar unggas,sempit,padat,dan baunya bukan main.”

abunawas : “waah,bagus kalau begitu.tambahkan seekor kambing lagi.buatkan ia kandang didalam rumahmu juga.lalu kembali kesini 3 hari lagi.”

si lelaki : “apa kau sudah gila abu ?kemarin ayam,bebek dan sekarang kambing.apa tidak ada cara lain yang lebih normal?”

abunawas : “lakukan saja,jangan membantah.”

lelaki itu tertunduk lesu,bagaimanapun juga yang memberi ide adalah abunawas,sicerdik pandai yang tersohor.maka dengan pasrah pergilah ia ke pasar dan membeli seekor kambing,lalu ia membuatkan kandang didalam rumahnya.

3 hari kemudian dia kembali menemui abunawas

abunawas : “bagaimana fulan ? sudah membesarkah kediamanmu ?”

si lelaki : “rumahku sekarang benar2 sudah jadi neraka.istriku mengomel sepanjang hari,anak2 menangis, semua hewan2 berkotek dan mengembik,bau,panas,sumpek,betul2 parah ya abu.tolong aku abu,jangan suruh aku beli sapi dan mengandangkannya dirumahku,aku tak sanggup ya abu.”

abu nawas : “baiklah,kalau begitu,pulanglah kamu,lalu juallah kambingmu kepasar,besok kau kembali untuk menceritakan keadaan rumahmu.”

si lelaki pulang sambil bertanya2 dalam hatinya,kemarin disuruh beli,sekarang disuruh jual,apa maunya si abunawas.namun,ia tetap menjual kambingnya kepasar.keesokan harinya ia kembali kerumah abunawas.

abu nawas : “bagaimana kondisi rumahmu hari ini ?”

si lelaki :”yah,lumayan lah abu,paling tidak bau dari kambing dan suara embikannya yang berisik sudah tak kudengar lagi.”
abu nawas : “kalau begitu juallah bebek2mu hari ini,besok kau kembali kemari”

si lelaki pulang kerumahnya dan menjual bebek2nya kepasar.esok harinya ia kembali kerumah abunawas

abunawas : “jadi,bagaimana kondisi rumahmu hari ini?”

si lelaki : “syukurlah abu,dengan perginya bebek2 itu,rumahku jadi jauh lebih tenang dan tidak terlalu sumpek dan bau lagi.anak2ku juga sudah mulai berhenti menangis.”

abunawas.bagus.”kini juallah ayam2mu kepasar dan kembali besok ”

si lelaki pulang dan menjual ayam2nya kepasar.keesokan harinya ia kembali dengan wajah yang berseri2 kerumah abunawas

abunawas : “kulihat wajahmu cerah hai fulan,bagaimana kondisi rumahmu saat ini?”

si lelaki :”alhamdulillah ya abu,sekarang rasanya rumahku sangat lega karena ayam dan kandangnya sudah tidak ada.kini istriku sudah tidak marah2 lagi,anak2ku juga sudah tidak rewel.”

abunawas : “(sambil tersenyum) nah nah,kau lihat kan,sekarang rumahmu sudah menjadi luas padahal kau tidak menambah bangunan apapun atau memperluas tanah banguanmu.sesungguhnya rumahmu itu cukup luas,hanya hatimu sempit sehingga kau tak melihat betapa luasnya rumahmu.mulai sekarang kau harus lebih banyak bersyukur karena masih banyak orang yang rumahnya lebih sempit darimu.sekarang pulanglah kamu,dan atur rumah tanggamu,dan banyak2lah bersyukur atas apa yang dirizkikan tuhan padamu,dan jangan banyak mengeluh.”

silelaki pun termenung sadar atas segala kekeliruannya,ia terpana akan kecendikiaan sang tokoh dan mengucap terima kasih pada abunawas…

hikayat abu nawas 3

Debat Kusir Tentang Ayam

Melihat ayam betinanya bertelur, Baginda tersenyum. Beliau memanggil pengawal agar mengumumkan kepada rakyat bahwa kerajaan mengadakan sayembara untuk umum. Sayembara itu berupa pertanyaan yang mudah tetapi memerlukan jawaban yang tepat dan masuk akal. Barangsiapa yang bisa menjawab pertanyaan itu akan mendapat imbalan yang amat menggiurkan. Satu pundi penuh uang emas. Tetapi bila tidak bisa menjawab maka hukuman yang menjadi akibatnya.

Banyak rakyat yang ingin mengikuti sayembara itu terutama orang-orang miskin. Beberapa dari mereka sampai meneteskan air liur. Mengingat beratnya hukuman yang akan dijatuhkan maka tak mengherankan bila pesertanya hanya empat orang. Dan salah satu dari para peserta yang amat sedikit itu adalah Abu Nawas.

Aturan main sayembara itu ada dua. Pertama, jawaban harus masuk akal. Kedua, peserta harus mampu menjawab sanggahan dari Baginda sendiri.

Pada hari yang telah ditetapkan para peserta sudah siap di depan panggung. Baginda duduk di atas panggung. Beliau memanggil peserta pertama. Peserta pertama maju dengan tubuh gemetar. Baginda bertanya,

"Manakah yang lebih dahulu, telur atau ayam?" "Telur." jawab peserta pertama.

"Apa alasannya?" tanya Baginda.

"Bila ayam lebih dahulu itu tidak mungkin karena ayam berasal dari telur." kata peserta pertama menjelaskan.

"Kalau begitu siapa yang mengerami telur itu?" sanggah Baginda. .
Peserta pertama pucat pasi. Wajahnya mendadak berubah putih seperti kertas. la tidak bisa menjawab. Tanpa ampun ia dimasukkan ke dalam penjara

Kemudian peserta kedua maju. la berkata,

"Paduka yang mulia, sebenarnya telur dan ayam tercipta dalam waktu yang bersamaan."

"Bagaimana bisa bersamaan?" tanya Baginda.

"Bila ayam lebih dahulu itu tidak mungkin karena ayam berasal dari telur. Bila teiur lebih dahulu itu juga tidak mungkin karena telur tidak bisa menetas tanpa dierami." kata peserta kedua dengan mantap.

"Bukankah ayam betina bisa bertelur tanpa ayam jantan?" sanggah Baginda memojokkan. Peserta kedua bjngung. la pun dijebloskan ke dalam penjara.

Lalu giliran peserta ketiga. la berkata;

"Tuanku yang mulia, sebenarnya ayam tercipta lebih dahulu daripada telur."

"Sebutkan alasanmu." kata Baginda.

"Menurut hamba, yang pertama tercipta adalah ayam betina." kata peserta ketiga meyakinkan.

"Lalu bagaimana ayam betina bisa beranak-pinak seperti sekarang. Sedangkan ayam jantan tidak ada." kata Baginda memancing.

"Ayam betina bisa bertelur tanpa ayam jantan. Telur dierami sendiri. Lalu menetas dan menurunkan anak ayam jantan. Kemudian menjadi ayam jantan dewasa dan mengawini induknya sendiri." peserta ketiga berusaha menjelaskan.

"Bagaimana bila ayam betina mati sebelum ayam jantan yang sudah dewasa sempat mengawininya?"

Peserta ketiga pun tidak bisa menjawab sanggahan Baginda. la pun dimasukkan ke penjara.

Kini tiba giliran Abu Nawas. la berkata, "Yang pasti adalah telur dulu, baru ayam."

"Coba terangkan secara logis." kata Baginda ingin tahu "Ayam bisa mengenal telur, sebaliknya telur tidak mengenal ayam." kata Abu Nawas singkat.

Agak lama Baginda Raja merenung. Kali ini Baginda tidak nyanggah alasan Abu Nawas.

hikayat abu nawas 2

Pintu Akhirat

Tidak seperti biasa, hari itu Baginda tiba-tiba ingin menyamar menjadi rakyat biasa. Beliau ingin menyaksikan kehidupan di luar istana tanpa sepengetahuan siapa pun agar lebih leluasa bergerak.

Baginda mulai keluar istana dengan pakaian yang amat sederhana layaknya seperti rakyat jelata. Di sebuah perkampungan beliau melihat beberapa orang berkumpul. Setelah Baginda mendekat, ternyata seorang ulama sedang menyampaikan kuliah tentang alam barzah. Tiba-tiba ada seorang yang datang dan bergabung di situ, la bertanya kepada ulama itu.

"Kami menyaksikan orang kafir pada suatu waktu dan mengintip kuburnya, tetapi kami tiada mendengar mereka berteriak dan tidak pula melihat penyiksaan-penyiksaan yang katanya sedang dialaminya. Maka bagaimana cara membenarkan sesuatu yang tidak sesuai dengan yang dilihat mata?" Ulama itu berpikir sejenak kemudian ia berkata,

"Untuk mengetahui yang demikian itu harus dengan panca indra yang lain. Ingatkah kamu dengan orang yang sedang tidur? Dia kadangkala bermimpi dalam tidurnya digigit ular, diganggu dan sebagainya. la juga merasa sakit dan takut ketika itu bahkan memekik dan keringat bercucuran pada keningnya. la merasakan hal semacam itu seperti ketika tidak tidur. Sedangkan engkau yang duduk di dekatnya menyaksikan keadaannya seolah-olah tidak ada apa-apa. Padahal apa yang dilihat serta dialaminya adalah dikelilirigi ular-ular. Maka jika masalah mimpi yang remeh saja sudah tidak mampu mata lahir melihatnya, mungkinkah engkau bisa melihat apa yang terjadi di alam barzah?"

hikayat abu nawas 1

Kisah 3 sahabatAda seorang Yogis (Ahli Yoga) mengajak seorang Pendeta bersekongkol akan memperdaya Iman Abu Nawas. Setelah mereka mencapai kata sepakat, mereka berangkat menemui Abu Nawas di kediamannya.

Ketika mereka datang Abu Nawas sedang melakukan solat Dhuha. Setelah dipersilahkan masuk oleh isteri Abu Nawas mereka masuk dan menunggu sambil berbincang-bincang santai.

Selesai solat Abu Nawas menyambut mereka. Abu Nawas dan para tamunya bercakap-cakap sejenak.

"Kami sebenarnya ingin mengajak engkau melakukan pengembaraan suci. Kalau engkau tidak keberatan bergabunglah bersama kami." kata Ahli Yoga.

"Dengan senang hati, aku akan mengikuti rancangannya?" tanya Abu Nawas jujur.

"Besok pagi." kata Pendeta.

"Baiklah kalau begitu kita bertemu di warung teh besok." kata Abu Nawas menyanggupi.

Hari berikutnya mereka berangkat bersama. Abu Nawas mengenakan jubah seorang Sufi. Ahli Yoga dan Pendeta memakai seragam keagamaan mereka masing-masing. Di tengah jalan mereka mulai diserang rasa lapar karena mereka memang sengaja tidak membawa bekal.

"Hai Abu Nawas, bagaimana kalau engkau saja yang mengumpulkan derma guna membeli makanan untuk kita bertiga. Karena kami akan mengadakan kebaktian." kata Pendeta. Tanpa banyak bicara Abu Nawas berangkat mencari dan mengumpulkan derma dari dusun satu ke dusun lain. Setelah derma terkumpul, Abu Nawas membeli makanan yang cukup untuk tiga orang. Abu Nawas kembali ke Pendeta dan Ahli Yoga dengan membawa makanan. Karena sudah tak sanggup menahan rasa lapar Abu Nawas berkata, "Mari segera kita bagi makanan ini sekarang juga."

"Jangan sekarang. Kami sedang berpuasa." kata Ahli Yoga.

"Tetapi aku hanya menginginkan bahagianku saja sedangkan bagian kalian terserah pada kalian." kata Abu Nawas menawarkan jalan keluar.

"Aku tidak setuju. Kita harus seiring seirama dalam berbuat apa pun:" kata Pendeta.

"Betul aku pun tidak setuju karena waktu makanku besok pagi. Besok pagi aku baru akan berbuka." kata Ahli Yoga.

"Bukankah aku yang engkau jadikan alat pencari derma Dan derma itu sekarang telah kutukar dengan makanan ini. Sekarang kalian tidak mengizinkan aku mengambil bahagian sendiri. Itu tidak masuk akal." kata Abu Nawas mulai merasa jengkel. Namun begitu Pendeta dan Ahli Yoga tetap bersikeras tidak mengizinkan Abu Nawas mengambil bahagian yang menjadi haknya.

Abu Nawas merasa kurang senang. la mencuba sekali lagi meyakinkan kawan-kawannya agar mengizinkan ia memakan bahagianya. Tetapi mereka tetap saja menolak.

Abu Nawas benar-benar merasa jengkel dan marah. Namun Abu Nawas tidak memperlihatkan sedikit pun kejengkelan dan kemarahannya.

"Bagaimana kalau kita mengadakan perjanjian." kata Pendeta kepada Abu Nawas.

"Perjanjian apa?" tanya Abu Nawas.

"Kita adakan lumba. Barangsiapa di antara kita bermimpi paling indah maka ia akan mendapat bahagian yang terbanyak yang kedua lebih sedikit dan yang terburuk akan mendapat paling sedikit." Pendeta itu menjelaskan.

Abu Nawas setuju. la tidak memberi komentar apa-apa.

Malam semakin larut. Embun mulai turun ke bumi. Pendeta dan Ahli Yoga mengantuk dan tidur. Abu Nawas tidak bisa tidur. la hanya berpura-pura tidur. Setelah merasa yakin kawan-kawannya sudah terlelap Abu Nawas menghampiri makanan itu. Tanpa berpikir dua kali Abu Nawas memakan habis makanan itu hinggatidak tersisa sedikit pun. Setelah merasa kekenyangan Abu Nawas baru tidur.

Keesokan hari mereka bangun hampir bersamaan. Ahli Yoga dengan wajah berseri-seri bercerita, "Tadi malam aku bermimpi memasuki sebuah taman yang mirip sekali dengan Nirvana. Aku merasakan kenikmatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya dalam hidup ini."

Pendeta mengatakan bahwa mimpi Ahli Yoga benar-benar menakjubkan. Betul betul luar biasa. Kemudian giliran Pendeta menceritakan mimpinya.

"Aku seolah-olah menembus ruang dan waktu. Dan temyata memang benar. Aku secara tidak sengaja berhasil menyusup ke masa silam dimana pendiri agamaku hidup. Aku bertemu dengan beliau dan yang lebih membahagiakan adalah aku diberkatinya."

Ahli Yoga juga memuji-muji kehebatan mimpi Pendeta, Abu Nawas hanya diam. la bahkan tidak merasa tertarik sedikitpun.

Karena Abu Nawas belum juga buka mulut, Pendeta dai Ahli Yoga mulai tidak sabar untuk tidak menanyakan mimpi Abu Nawas.

"Kalian tentu tahu Nabi Daud alaihissalam. Beliau adalah seorang nabi yang ahli berpuasa. Tadi malam aku bermimpi berbincang-bincang dengan beliau. Beliau menanyakan apakah aku berpuasa atau tidak. Aku katakan aku berpuasa karena aku memang tidak makan sejak dini hari Kemudian beliau menyuruhku segera berbuka karena hari sudah malam. Tentu saja aku tidak berani mengabaikan perintah beliau. Aku segera bangun dari tidur dan langsung menghabiskan makanan itu." kata Abu Nawas tanpa perasaa bersalah secuil pun.

Sambil menahan rasa lapar yang menyayat-nyayat Pendeta dan Ahli Yoga saling berpandangan satu sama lain.

Kejengkelan Abu Nawas terobati. Kini mereka sadar bahwa tidak ada gunanya coba-coba mempermainkan Abu Nawas, pasti hanya akan mendapat celaka sendiri.

fatwa

Keutamaan Ziarah Qubur

Ditulis oleh daruttaqwa di/pada 25 September 2008

Ibnu Najar dalam tarihnya dari Abu Bakar Assiddiq,Rosululloh bersabda ” Barang siapa berziarah ke makam kedua orang tuanya atau salah satunya setiap hari jum’at dan membacakanya surat Yaasin maka Allah mengampuni dosa-dosanya sebanyak jumlah bilangan huruf yang terdapat pada surat Yaasin. Hal ini di terangkan dalam kitab :Addar al-Mansur Juz 7 Hal 40, Makarim al-Ahlaq Juz 1 Hal 73 dan 248, dan lain-lain.

وَأَخْرَجَ اِبْنُ النَّّجَارِ فِيْ تَارِيْخِهِ عَنْ أَبِيْ بَكْرٍ اَلصِّدِّيِقِ قاَلَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَى اللهِ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ ” مَنْ زَارَ قَبْرَ وَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدِهِمَا فِيْ كُلِّ جُمُعَةٍ فَقَرَأَ عِنْدَهَا يَس غَفَرَ اللهُ لَهُ بِعَدَدِ كُلِّ حَرْفٍ مِنْهَا “

دي دالام كتاب Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Religion | Leave a Comment »
Khutbah Tsani; IDUL FITRI

Ditulis oleh daruttaqwa di/pada 25 September 2008

الله أكبر x 3 الله أكبر x 4

لا إله إلا الله والله أكبر, الله أكبر ولله الحمد.

الحمد لله الذي جعلنا الأعياد بالأفراح والسرور وضاعف للمتـقـين جزيل الأجور.فسبحان من حرم صومه وأوجب فطره وحذر فيه من الغرور. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لاشريك له العفو الغفور وأشهد أن سيدنا محمدا عبده ورسوله الذى أقام منار الاسلام بعد الدثور. اللهم صل وسلم على سيدنا محمد نالنبي الأمي وعلى أله وأصحابه Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Khutbah Jum'at | Leave a Comment »
Khutbah Tsani; IDUL ADHA

Ditulis oleh daruttaqwa di/pada 25 September 2008

الله أكبر x 3 الله أكبر x 4

لا إله إلا الله والله أكبر، الله أكبر ولله الحمد.

الحمد لله حمدا كثيرا كما أمر نحمد سبحانه وتعالى الذي جعل الخليل إبراهيم إماما لنا ولسائر البشر. أشهد أن لاإله إلاالله وحده لاشريك له الملك الجبار. وأشهد أن سيدنا محمدا عبده ورسوله المبعوث للناس لينقدهم من كيد الشيطان وينجيهم من عذاب النار. اللهم صل وسلم على سيدنا محمدنالنبي الأمي وعلى أله وأصحابه الذين كانوا يرجون Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Khutbah Jum'at | 1 Komentar »
Hukum Merokok

Ditulis oleh daruttaqwa di/pada 25 September 2008

HUKUM MEROKOK

A. Haram

Menurut Syeh Abd. Aziz bin Abdillah bin Baz hukum merokok itu haram karena bisa membahayakan kesehatan. Diterangkan dalam kitab Hukmu Syurbu ad-Dukhon Wa Imamati Man Juz 1 Hal.1- 3.

فقد دلت الأدلة الشرعية على أن شرب الدخان من الأمور المحرمة شرعا لما اشتمل عليه من الأضرار ،

قال تعالى :

{ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ } فهي من الخبائث المحرمة ، ويؤدي شربها إلى أمراض متعددة تؤدي إلى الموت ، وقال صلى الله عليه وسلم : « لا ضرر ولا ضرار » ، فالضرر بالجسم أو الإضرار بالغير منهي عنه ، فشربه وبيعه حرام ، الكتاب حكم شرب الدخان وامامة من جز 1 ص 1-3

Menurut Imam Al Bajuri merokok juga haram jika membelinya dengan uang jatah nafaqoh keluarga.

وقد تعتريه الحرمة اذا كان يشتريه بما يحتاجه نفقة عياله او تيقن ضرره. (الكتاب البجوري جز 1 ص : 343

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Islam | Leave a Comment »
PIAGAM MADINAH (Sebagai Rujukan Kehidupan Berbangsa Dan Bernegara)

Ditulis oleh daruttaqwa di/pada 24 September 2008

PIAGAM MADINAH

“Sebagai Rujukan Kehidupan Berbangsa Dan Bernegara”

A. Pendahuluan

“Terbentuknya Masyarakat Madani”, merupakan cita-cita luhur dan harapan besar yang diinginkan setiap masyarakat. “Masyarakat Madani” adalah sebuah konsep ke-negara-an yang merujuk pada pemerintah atau Negara pada zaman Rasululoh di Madinah. Oleh sebab itu setiap kali wacana konsep ideal system ke-negara-an terutama dalam hubungannya dengan Islam diperbincangkan, maka orang akan selalu merujuk pada pemerintahan atau negara pada zaman Rasulullah di Madinah. Berikutnya juga pemerintahan empat khalifah penerus Rasulullah yakni kholifah Abu Bakar, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Yang terakhir ini seringkali disebut sebagai Khulafaur Rasyidin yaitu para khalifah yang mendapatkan petunjuk (dari Allah).

Negara pada masa Rasulullah bercorak teokratis, sedangkan zaman Khulafaur Rasyidin bercorak republik demokratis, kepala negara dipilih. Oleh karena itu dalam surat-suratnya, Nabi Muhammad selalu menyebutkan: dari Muhammad Rasulullah. Sedangkan Khulafaur Rasyidin menyebutkan: dari Amirul Mukminin (pemimpin para mukmin). Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Pluralisme | Leave a Comment »

ponpes Darut taqwa